Minggu, 29 November 2009

Petra Kota Kuno di yordania

Tujuh keajabaian dunia yang baru telah diumumkan di Lisbon, Portugal. Hasilnya sangat mengejutkan karena sejumlah situs peradaban kuno tereliminasi seperti piramida di Mesir dan akropolis di Yunani. Tujuh tanda kegemilangan kreasi manusia yang baru, menurut penilaian sebuah yayasan swasta di Swiss, adalah Tembok Besar di Cina, Taj Mahal di India, Puing-puing Taman Petra di Yordania, Kolaseum di Italia, Patung Yesus di Brasil, Machu Picchu di Peru, dan Kota Tua Maya di Meksiko.




Bangsa Indonesia juga dibuat shock karena Candi Borobudur yang dibangun pada abad ke-8 telah tercoret dari daftar bergengsi itu. Padahal usianya tak kalah tua dibanding Taj Mahal atau Patung Yesus, dan desain konstruksinya tak kalah canggih dari Taman Petra atau Kolaseum Roma yang pernah dibakar Raja Nero. Sebagian orang bertanya, apalagi yang bisa dibanggakan bangsa Indonesia di kancah dunia? Bagaimana kita menjelaskan kepada siswa sekolah dasar yang masih menghapal Borobudur sebagai salah satu puncak kreativitas bangsa?

Di tengah kondisi ini, muncul harapan ketika kita melihat sosok Dr. Nurul Taufiqu Rachman, M.Eng. Ilmuwan muda kelahiran kota apel, Malang, itu menamatkan pendidikan sarjana, master, doktor dan post-doktornya di Universitas Kagoshima, Jepang. Semuanya dengan predikat terbaik. Ahli teknik mesin itu kini mengantongi delapan hak paten atas temuannya, disamping langganan menulis di jurnal ilmiah nasional dan internasional. Ia memperoleh penghargaan Adhidarma dari Persatuan Insinyur Indonesia (2005) dan Peneliti Muda LIPI (2004). Sementara penghargaan internasional diperoleh dari Sankei News Paper Company, Japan Foreign Ministry, dan Higashi Nihon House Company sebagai peneliti terbaik di Jepang (1995)

Yang mengagumkan dari pribadi Nurul bukan hanya kepandaiannya, namun komitmennya untuk membangun Tanah Air. Karena itu, dia tetap mengabdi sebagai peneliti di Pusat Penelitian Fisika, LIPI, sekalipun tawaran untuk bekerja di negeri lain dengan fasilitas yang jauh lebih besar datang menghampiri. Banyak tokoh muda lain dengan prestasi tak kalah mencorong, semisal Dr. Arief Witarto (ahli bioteknologi) atau Dr. Warsito (ahli tomografi). Mereka mengembangkan ilmu dan keahliannya demi kebangkitan bangsa.

Kita tak perlu shock dengan dicoretnya Borobudur dari daftar keajaiban dunia, karena negara kepulauan berpenduduk 220 juta orang ini masih mungkin mencetak kreasi besar, bila menekuni pembinaan SDM. Sebagai bangsa, kita harus menyadari kelemahan kolektif di semua lini, dan menciptakan momentum baru untuk kejayaan di pentas dunia. Kenyataan inilah yang membuat kami terpanggil untuk lebih teguh membina mahasiswa berprestasi sebagai SDM strategis yang akan mengangkat martabat bangsa di tengah kompetisi global

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar